Wednesday, August 17, 2016

GLORIA, GLORIA, SEMANGAT INDONESIA!

Senja itu, senja kesekian yang dilewati sang gadis setelah berhari-hari berlatih untuk bersiap menjadi Pasukan Pengibar Bendera pada upacara peringatan kemerdekaan di Istana Negara. Lelah namun percaya akan berakhir indah begitu yang ia rasa.

            Sang gadis berlalu dari lelahnya, dan segera bersiap untuk istirahat. Tak tampak lelah di wajah manisnya karna semangatnya. Diambilnya bantal di pojok tempat tidur dan berbaringlah ia dengan senyum menatap langit-langit kamarnya. Menghitung beberapa hari lagi menjadi Pasukan Pengibar Bendera di Istana Negara yang akan menjadi nyata.

            Malam gelap berganti pagi, penuh semangat sang gadis memulai hari. Berlatih dengan keras, mimpi yang akan menjadi nyata menjadi penyemangatnya. Tak peduli betapa panas cuaca, tetap semangat tanpa henti berlatih demi sebuah kebanggaan di jiwa
.
            Gloria, ya Gloria namanya. Seorang gadis yang masih SMA. Seorang gadis penyuka olahraga basket yang berbahagia mimpinya akan menjadi nyata. Tak gentar menghadapi apapun demi menggapai cita.

            Tak terasa beberapa hari lagi akan tiba saatnya ia untuk bertugas demi kebanggaannya, demi Negara tercinta.

            “Gloria, ada surat untukmu dari Pemimpin Pelatihan PASKIBRAKA”, kata petugas pengantar surat yang diperintah komandannya untuk mengantarkan surat untuk Gloria.

            “ada apa ya?”, gumam Gloria dengan perasaan yang tak jelas sambil membuka surat yang ia terima.

            “kok begini? Memang apa yang salah? Kenapa aku dikeluarkan dari keanggotaan PASKIBRAKA?”, ucap Gloria panik menghampiri Pelatihnya. Tampak raut kecewa dari wajahnya setelah ia membaca surat pemberhentian dirinya dari keanggotaan PASKIBRAKA.

            “maaf Gloria, tapi ini sudah menjadi keputusan dari Pusat setelah mengetahui bahwa kamu memiliki paspor negara lain, dan dengan bukti itu jelas sekali kalau kamu bukan warga negara Indonesia”, jawab sang Pelatih dengan tegas namun bersikap mencoba menenangkannya.

            Sangat kecewa dan bersedih itulah yang ia rasa. Terbata-bata ia berkata menelpon ibunya. Sungguh entah bagaimana mengungkapkan rasa yang ada. Kecewa, sedih dan merasa semuanya sia-sia.

            Esoknya, mendung seperti suasana hatinya, sang ibunda datang menghampirinya. “sabar nak. Pasti ada cara untuk kembali membuat kamu masuk keanggotaan”, ujar ibundanya meyakinkan dan menenangkan Gloria.

            “kenapa ma? Kenapa kok jadi kayak gini? Aku kenapa? Apa masalahnya? Aku ini asli INDONESIA ma. Aku orang INDONESIA ma”, ucap Gloria terisak kepada ibunya.

            Pemberitaan di televisi yang entah mendapat info darimana tentang dirinya tak henti-hentinya. Perasaan gundah, kecewa muncul dan seakan memojokannya.

            Impian menjadi Pasukan Pengibar Bendera di Istana Negara nampaknya tak akan menjadi nyata. Berpikir keras ia dan ibunda agar ia bisa tetap menjadi anggota. “biarpun sulit, aku harus tetap bisa”, gumamnya.

            Hari demi hari berlalu dan dua hari lagi 17 Agustus tiba. Belum ada perubahan dan ia tetap dinyatakan tak akan ikut serta. Mencoba tegar dan sabar, semua dihadapinya. Ia yakin, akan ada hal yang indah bila ia mampu bersabar dan pantang menyerah sembari mencoba sedikit menerima.

            16 Agustus, dan sebuah harapan tiba. Menteri Pemuda dan Olah Raga datang menghampirinya. “kamu esok tetap datang ke istana, saya tetap mengusahakan kamu untuk tetap menjadi pasukan pengibar bendera dan kamu akan menjadi Duta dari Kementerian saya”, ujar sang Menteri mencoba menenangkan Gloria, gadis yang fenomenal hampir di seluruh media.

            “baik Pak, saya siap untuk hadir disana besok”, jawab Gloria dengan sikap yang menunjukkan bahwa ia telah tegar dan ikhlas menerima semuanya.

            Malam tanggal 16 Agustus, Gloria berusaha untuk tetap tegar dan menerima apapun yang terjadi. “orang sabar pasti beruntung, dan aku pasti beruntung”, penuh yakin ia berkata dalam hatinya.

            17 Agustus tiba. Teman-temannya yang sudah dikukuhkan menjadi Pasukan Pengibar Bendera sibuk bersiap diri untuk melaksanakan tugasnya. Gloria duduk di sebuah ruangan di sudut istana, memperhatikan acara upacara hari itu lewat sebuah televisi kecil yang disediakan disana. “seandainya aku ada disana”, gumam Gloria melihat teman-temannya melaksanakan tugas mengibarkan bendera. Namun ia tak patah semangat. Gloria tetap bangga dengan apapun yang telah ia dapatkan meskipun mimpinya menjadi Pasukan Pengibar Bendera secara jelas gagal ia raih.

            “selamat ya semua”, teriak Gloria haru memeluk teman-temannya yang telah melaksanakan tugas mengibarkan bendera. Ia sangat tegar, ikut berbahagia dengan teman-temannya.

            Berkumpul bersama teman-teman membuat Gloria seperti lupa akan apa yang telah terjadi. Ia merasa telah ikut juga didalam tim pengibar bendera itu. Senyum bahagia ikut terpancar dari wajah manisnya.

            Ditengah perbincangan hangat dengan teman-temannya, sebuah stasiun televise mencoba mewawancarainya. Tak tampak kecewa dari raut wajahnya. Sembari tersenyum ia menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan. Sungguh ia terlihat ikut bahagia dengan keberhasilan rekan-rekannya.

            “maaf Gloria, kamu dicari Presiden”, ucap anggota Paspampres ditengah wawancara yang sedang ia jalani. “aku dicari Presiden?” tanya Gloria dengan rasa tak percaya. “iya kamu dicari Presiden dan kamu diharap bisa menghadap sekarang juga”, jawab anggota Paspampres dengan wajah sangat tegas khas Prajurit seolah mencengkeram tangan Gloria untuk ikut bersamanya.

            Dengan penuh tanda tanya Gloria ikut pergi dengan anggota Paspampres itu dan meninggalkan wawancara yang tengah ia jalani. “ada apa ya? Kenapa Presiden mencariku?”, tanya Gloria dalam hati sembari berjalan dengan sangat terburu-buru.

            “oh ini yang selalu masuk berita”, ucap Presiden sembari tertawa menyambut Gloria tiba didekatnya. Seperti mimpi, itulah yang dirasakan oleh Gloria. Ia berbincang dengan Presiden dan pejabat-pejabat lainnya.

            “kamu nanti sore ikut menjadi pasukan penurunan bendera”, ucap Presiden dengan menatap Gloria untuk meyakinkannya. “apa? Aku akhirnya bisa masuk tim? Ini serius?” tanya Gloria dalam hati yang sungguh tak percaya mimpinya selama ini menjadi nyata.

            “siap Pak. Saya siap menjalankan tugas saya”, ucap Gloria dengan rasa yang luar biasa bahagia.

            Sore itu di Istana Negara, seorang gadis bernama Gloria, seorang gadis yang pantang menyerah, menjadi petugas penurunan bendera. Dengan penuh keyakinan ia dan teman-temannya melaksanakan tugas dengan baik, tugas yang akan menjadi kebanggaan mereka, terutama nama baik bangsa.


            Mimpi itu jadi nyata. Gloria, gadis manis yang pantang menyerah akhirnya menggapai apa yang diimpikannya. Tertanam dalam hati, bersabar dan pantang menyerah akan membawanya pada keberhasilan yang nyata.

No comments:

Post a Comment