Senja itu, senja kesekian
yang dilewati sang gadis setelah berhari-hari berlatih untuk bersiap menjadi Pasukan
Pengibar Bendera pada upacara peringatan kemerdekaan di Istana Negara. Lelah
namun percaya akan berakhir indah begitu yang ia rasa.
Sang gadis berlalu dari lelahnya, dan segera bersiap
untuk istirahat. Tak tampak lelah di wajah manisnya karna semangatnya.
Diambilnya bantal di pojok tempat tidur dan berbaringlah ia dengan senyum
menatap langit-langit kamarnya. Menghitung beberapa hari lagi menjadi Pasukan
Pengibar Bendera di Istana Negara yang akan menjadi nyata.
Malam gelap berganti pagi, penuh semangat sang gadis
memulai hari. Berlatih dengan keras, mimpi yang akan menjadi nyata menjadi
penyemangatnya. Tak peduli betapa panas cuaca, tetap semangat tanpa henti
berlatih demi sebuah kebanggaan di jiwa
.
Gloria, ya Gloria namanya. Seorang gadis yang masih SMA.
Seorang gadis penyuka olahraga basket yang berbahagia mimpinya akan menjadi
nyata. Tak gentar menghadapi apapun demi menggapai cita.
Tak terasa beberapa hari lagi akan tiba saatnya ia untuk
bertugas demi kebanggaannya, demi Negara tercinta.
“Gloria, ada surat untukmu dari Pemimpin Pelatihan
PASKIBRAKA”, kata petugas pengantar surat yang diperintah komandannya untuk
mengantarkan surat untuk Gloria.
“ada apa ya?”, gumam Gloria dengan perasaan yang tak
jelas sambil membuka surat yang ia terima.
“kok begini? Memang apa yang salah? Kenapa aku
dikeluarkan dari keanggotaan PASKIBRAKA?”, ucap Gloria panik menghampiri
Pelatihnya. Tampak raut kecewa dari wajahnya setelah ia membaca surat
pemberhentian dirinya dari keanggotaan PASKIBRAKA.
“maaf Gloria, tapi ini sudah menjadi keputusan dari Pusat
setelah mengetahui bahwa kamu memiliki paspor negara lain, dan dengan bukti itu
jelas sekali kalau kamu bukan warga negara Indonesia”, jawab sang Pelatih
dengan tegas namun bersikap mencoba menenangkannya.
Sangat kecewa dan bersedih itulah yang ia rasa.
Terbata-bata ia berkata menelpon ibunya. Sungguh entah bagaimana mengungkapkan
rasa yang ada. Kecewa, sedih dan merasa semuanya sia-sia.
Esoknya, mendung seperti suasana hatinya, sang ibunda
datang menghampirinya. “sabar nak. Pasti ada cara untuk kembali membuat kamu
masuk keanggotaan”, ujar ibundanya meyakinkan dan menenangkan Gloria.
“kenapa ma? Kenapa kok jadi kayak gini? Aku kenapa? Apa
masalahnya? Aku ini asli INDONESIA ma. Aku orang INDONESIA ma”, ucap Gloria
terisak kepada ibunya.
Pemberitaan di televisi yang entah mendapat info darimana
tentang dirinya tak henti-hentinya. Perasaan gundah, kecewa muncul dan seakan
memojokannya.
Impian menjadi Pasukan Pengibar Bendera di Istana Negara
nampaknya tak akan menjadi nyata. Berpikir keras ia dan ibunda agar ia bisa
tetap menjadi anggota. “biarpun sulit, aku harus tetap bisa”, gumamnya.
Hari demi hari berlalu dan dua hari lagi 17 Agustus tiba.
Belum ada perubahan dan ia tetap dinyatakan tak akan ikut serta. Mencoba tegar
dan sabar, semua dihadapinya. Ia yakin, akan ada hal yang indah bila ia mampu
bersabar dan pantang menyerah sembari mencoba sedikit menerima.
16 Agustus, dan sebuah harapan tiba. Menteri Pemuda dan
Olah Raga datang menghampirinya. “kamu esok tetap datang ke istana, saya tetap
mengusahakan kamu untuk tetap menjadi pasukan pengibar bendera dan kamu akan
menjadi Duta dari Kementerian saya”, ujar sang Menteri mencoba menenangkan
Gloria, gadis yang fenomenal hampir di seluruh media.
“baik Pak, saya siap untuk hadir disana besok”, jawab
Gloria dengan sikap yang menunjukkan bahwa ia telah tegar dan ikhlas menerima
semuanya.
Malam tanggal 16 Agustus, Gloria berusaha untuk tetap
tegar dan menerima apapun yang terjadi. “orang sabar pasti beruntung, dan aku
pasti beruntung”, penuh yakin ia berkata dalam hatinya.
17 Agustus tiba. Teman-temannya yang sudah dikukuhkan
menjadi Pasukan Pengibar Bendera sibuk bersiap diri untuk melaksanakan
tugasnya. Gloria duduk di sebuah ruangan di sudut istana, memperhatikan acara
upacara hari itu lewat sebuah televisi kecil yang disediakan disana.
“seandainya aku ada disana”, gumam Gloria melihat teman-temannya melaksanakan
tugas mengibarkan bendera. Namun ia tak patah semangat. Gloria tetap bangga
dengan apapun yang telah ia dapatkan meskipun mimpinya menjadi Pasukan Pengibar
Bendera secara jelas gagal ia raih.
“selamat ya semua”, teriak Gloria haru memeluk
teman-temannya yang telah melaksanakan tugas mengibarkan bendera. Ia sangat
tegar, ikut berbahagia dengan teman-temannya.
Berkumpul bersama teman-teman membuat Gloria seperti lupa
akan apa yang telah terjadi. Ia merasa telah ikut juga didalam tim pengibar
bendera itu. Senyum bahagia ikut terpancar dari wajah manisnya.
Ditengah perbincangan hangat dengan teman-temannya,
sebuah stasiun televise mencoba mewawancarainya. Tak tampak kecewa dari raut
wajahnya. Sembari tersenyum ia menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan. Sungguh
ia terlihat ikut bahagia dengan keberhasilan rekan-rekannya.
“maaf Gloria, kamu dicari Presiden”, ucap anggota
Paspampres ditengah wawancara yang sedang ia jalani. “aku dicari Presiden?”
tanya Gloria dengan rasa tak percaya. “iya kamu dicari Presiden dan kamu
diharap bisa menghadap sekarang juga”, jawab anggota Paspampres dengan wajah
sangat tegas khas Prajurit seolah mencengkeram tangan Gloria untuk ikut
bersamanya.
Dengan penuh tanda tanya Gloria ikut pergi dengan anggota
Paspampres itu dan meninggalkan wawancara yang tengah ia jalani. “ada apa ya?
Kenapa Presiden mencariku?”, tanya Gloria dalam hati sembari berjalan dengan
sangat terburu-buru.
“oh ini yang selalu masuk berita”, ucap Presiden sembari
tertawa menyambut Gloria tiba didekatnya. Seperti mimpi, itulah yang dirasakan
oleh Gloria. Ia berbincang dengan Presiden dan pejabat-pejabat lainnya.
“kamu nanti sore ikut menjadi pasukan penurunan bendera”,
ucap Presiden dengan menatap Gloria untuk meyakinkannya. “apa? Aku akhirnya
bisa masuk tim? Ini serius?” tanya Gloria dalam hati yang sungguh tak percaya
mimpinya selama ini menjadi nyata.
“siap Pak. Saya siap menjalankan tugas saya”, ucap Gloria
dengan rasa yang luar biasa bahagia.
Sore itu di Istana Negara, seorang gadis bernama Gloria,
seorang gadis yang pantang menyerah, menjadi petugas penurunan bendera. Dengan
penuh keyakinan ia dan teman-temannya melaksanakan tugas dengan baik, tugas
yang akan menjadi kebanggaan mereka, terutama nama baik bangsa.
Mimpi itu jadi nyata. Gloria, gadis manis yang pantang
menyerah akhirnya menggapai apa yang diimpikannya. Tertanam dalam hati,
bersabar dan pantang menyerah akan membawanya pada keberhasilan yang nyata.