Monday, June 24, 2019

Kisah Alana

Alana adalah seorang anak yang cantik dan ramah. Ia tinggal di sebuah desa yang sangat asri. Setiap pagi setelah bangun tidur, Alana tak pernah lupa merapikan tempat tidurnya. Kegiatan merapikan tempat tidur dilakukan Alana setelah ia melaksanakan ibadah sholat subuh. Alana sebagai anak satu - satunya di keluarga yang sederhana membuat ia berpikir untuk disiplin dan mandiri.

Sebelum berangkat sekolah, Alana tak pernah lupa untuk sarapan agar memiliki energi yang cukup untuk menerima pelajaran di sekolah dan ia selalu pamit dengan kedua orang tuanya.

Di sekolah, Alana memiliki sahabat bernama Tika dan Rosa. Hampir setiap hari mereka selalu bersama. Mulai dari berangkat sekolah hingga bermain sepulang sekolah. Mereka juga rutin belajar bersama.

Pada suatu hari sepulang sekolah, Alana, Tika dan Rosa akan melakukan petualangan di bukit yang ada di dekat desa mereka. Sebelum berangkat, mereka tak lupa Sholat Dzuhur lalu menyiapkan bekal dan perlengkapan bermain.

Perjalanan menuju bukit melewati sawah, sungai dan sebuah desa kecil. Alana yang memang selalu memimpin setiap perjalanan sesekali mengajak Tika dan Rosa bermain di sawah dan tepi sungai. Mereka bertiga tak henti bernyanyi disepanjang perjalanan.

Tak lama, mereka tiba di bukit. Alana, Tika dan Rosa langsung tidur diatas rumput hijau sambil memandang langit biru yang sangat cerah. Mereka bercerita tentang serunya perjalanan menuju bukit. Sebuah kekaguman akan hijaunya sawah, petani yang menggarap sawah dengan kerbaunya hingga ibu petani dan anaknya yang sibuk menyiapkan makanan untuk ayahnya yang sedang sibuk menggarap sawah. Sebuah pemandangan yang biasa mereka lihat tapi memiliki arti akan indahnya saling menyayangi di dalam keluarga.

Setelah puas bercerita, mereka bertiga mulai membuka bekal yang dibawa dari rumah. Mereka bertiga saling bertukar makanan lalu makan bersama. Sebelum makan, mereka tak lupa untuk berdoa dan mencuci tangan dahulu.

Beberapa saat setelah makan makanan yang dibawa, mereka lalu mengambil karet dan bermain di atas bukit yang indah. Mereka bermain riang gembira.

Waktu mulai sore. Mereka lalu membereskan barang - barang yang dibawa dan bergegas pulang. Berbekal kantung plastik yang mereka bawa, di perjalanan pulang mereka tak lupa memunguti sampah yang mereka lihat.

Alana, Tika dan Rosa sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan. Di setiap perjalanan yang mereka lakukan, selalu memunguti sampah yang mereka lihat.

Sebelum sampai rumah, mereka bertiga singgah di Bank Sampah yang ada di sekitar desanya. Mereka memberikan sampah yang mereka bawa ke Bank Sampah lalu mereka mendapatkan tabungan uang dari sampah yang mereka bawa. Sampah yang mereka berikan akan di daur ulang dan dijadikan barang yang bermanfaat. Hingga pada akhirnya lingkungan mereka menjadi bersih, sehat dan masyarakat memiki tabungan dari sampah yang diberikan ke Bank Sampah.

Sesampainya di rumah, Alana langsung mandi, Sholat Asar dan beristirahat setelah sepanjang siang bermain.

Adzan Maghrib berkumandang. Alana menuju ke masjid untuk Sholat Maghrib berjamaah. Sepulang dari Masjid, Alana mengaji bersama orang tuanya dan dilanjutkan dengan makan malam bersama keluarga. Alana selalu bercerita pengalaman mereka sepanjang hari ke Ayah dan Bundanya. Terkadang, Ayah dan Bunda juga memberikan nasihat yang baik untuk Alana.

Setelah makan malam, Alana sholat Isya dan langsung menyiapkan buku pelajaran dan seragam sekolah untuk esok hari. Selesai membereskan buku pelajaran dan seragam, Alana belajar untuk mengingat pelajaran yang sudah  diterima di sekolah hingga pada akhirnya Alana tidak lupa akan semua pelajaran yang ada di sekolah.

Setelah belajar, Alana lalu bergegas tidur. Tak lupa sebelum tidur, Alana menyikat gigi dan mencuci kaki. Setelah itu Alana langsung menuju tempat tidur dan berdoa sebelum tidurnya.

Alana adalah contoh anak yang rajin, riang dan gembira. Dengan menjadi anak yang baik, kita bisa membuat orang tua bangga dan bahagia.

Wednesday, August 17, 2016

GLORIA, GLORIA, SEMANGAT INDONESIA!

Senja itu, senja kesekian yang dilewati sang gadis setelah berhari-hari berlatih untuk bersiap menjadi Pasukan Pengibar Bendera pada upacara peringatan kemerdekaan di Istana Negara. Lelah namun percaya akan berakhir indah begitu yang ia rasa.

            Sang gadis berlalu dari lelahnya, dan segera bersiap untuk istirahat. Tak tampak lelah di wajah manisnya karna semangatnya. Diambilnya bantal di pojok tempat tidur dan berbaringlah ia dengan senyum menatap langit-langit kamarnya. Menghitung beberapa hari lagi menjadi Pasukan Pengibar Bendera di Istana Negara yang akan menjadi nyata.

            Malam gelap berganti pagi, penuh semangat sang gadis memulai hari. Berlatih dengan keras, mimpi yang akan menjadi nyata menjadi penyemangatnya. Tak peduli betapa panas cuaca, tetap semangat tanpa henti berlatih demi sebuah kebanggaan di jiwa
.
            Gloria, ya Gloria namanya. Seorang gadis yang masih SMA. Seorang gadis penyuka olahraga basket yang berbahagia mimpinya akan menjadi nyata. Tak gentar menghadapi apapun demi menggapai cita.

            Tak terasa beberapa hari lagi akan tiba saatnya ia untuk bertugas demi kebanggaannya, demi Negara tercinta.

            “Gloria, ada surat untukmu dari Pemimpin Pelatihan PASKIBRAKA”, kata petugas pengantar surat yang diperintah komandannya untuk mengantarkan surat untuk Gloria.

            “ada apa ya?”, gumam Gloria dengan perasaan yang tak jelas sambil membuka surat yang ia terima.

            “kok begini? Memang apa yang salah? Kenapa aku dikeluarkan dari keanggotaan PASKIBRAKA?”, ucap Gloria panik menghampiri Pelatihnya. Tampak raut kecewa dari wajahnya setelah ia membaca surat pemberhentian dirinya dari keanggotaan PASKIBRAKA.

            “maaf Gloria, tapi ini sudah menjadi keputusan dari Pusat setelah mengetahui bahwa kamu memiliki paspor negara lain, dan dengan bukti itu jelas sekali kalau kamu bukan warga negara Indonesia”, jawab sang Pelatih dengan tegas namun bersikap mencoba menenangkannya.

            Sangat kecewa dan bersedih itulah yang ia rasa. Terbata-bata ia berkata menelpon ibunya. Sungguh entah bagaimana mengungkapkan rasa yang ada. Kecewa, sedih dan merasa semuanya sia-sia.

            Esoknya, mendung seperti suasana hatinya, sang ibunda datang menghampirinya. “sabar nak. Pasti ada cara untuk kembali membuat kamu masuk keanggotaan”, ujar ibundanya meyakinkan dan menenangkan Gloria.

            “kenapa ma? Kenapa kok jadi kayak gini? Aku kenapa? Apa masalahnya? Aku ini asli INDONESIA ma. Aku orang INDONESIA ma”, ucap Gloria terisak kepada ibunya.

            Pemberitaan di televisi yang entah mendapat info darimana tentang dirinya tak henti-hentinya. Perasaan gundah, kecewa muncul dan seakan memojokannya.

            Impian menjadi Pasukan Pengibar Bendera di Istana Negara nampaknya tak akan menjadi nyata. Berpikir keras ia dan ibunda agar ia bisa tetap menjadi anggota. “biarpun sulit, aku harus tetap bisa”, gumamnya.

            Hari demi hari berlalu dan dua hari lagi 17 Agustus tiba. Belum ada perubahan dan ia tetap dinyatakan tak akan ikut serta. Mencoba tegar dan sabar, semua dihadapinya. Ia yakin, akan ada hal yang indah bila ia mampu bersabar dan pantang menyerah sembari mencoba sedikit menerima.

            16 Agustus, dan sebuah harapan tiba. Menteri Pemuda dan Olah Raga datang menghampirinya. “kamu esok tetap datang ke istana, saya tetap mengusahakan kamu untuk tetap menjadi pasukan pengibar bendera dan kamu akan menjadi Duta dari Kementerian saya”, ujar sang Menteri mencoba menenangkan Gloria, gadis yang fenomenal hampir di seluruh media.

            “baik Pak, saya siap untuk hadir disana besok”, jawab Gloria dengan sikap yang menunjukkan bahwa ia telah tegar dan ikhlas menerima semuanya.

            Malam tanggal 16 Agustus, Gloria berusaha untuk tetap tegar dan menerima apapun yang terjadi. “orang sabar pasti beruntung, dan aku pasti beruntung”, penuh yakin ia berkata dalam hatinya.

            17 Agustus tiba. Teman-temannya yang sudah dikukuhkan menjadi Pasukan Pengibar Bendera sibuk bersiap diri untuk melaksanakan tugasnya. Gloria duduk di sebuah ruangan di sudut istana, memperhatikan acara upacara hari itu lewat sebuah televisi kecil yang disediakan disana. “seandainya aku ada disana”, gumam Gloria melihat teman-temannya melaksanakan tugas mengibarkan bendera. Namun ia tak patah semangat. Gloria tetap bangga dengan apapun yang telah ia dapatkan meskipun mimpinya menjadi Pasukan Pengibar Bendera secara jelas gagal ia raih.

            “selamat ya semua”, teriak Gloria haru memeluk teman-temannya yang telah melaksanakan tugas mengibarkan bendera. Ia sangat tegar, ikut berbahagia dengan teman-temannya.

            Berkumpul bersama teman-teman membuat Gloria seperti lupa akan apa yang telah terjadi. Ia merasa telah ikut juga didalam tim pengibar bendera itu. Senyum bahagia ikut terpancar dari wajah manisnya.

            Ditengah perbincangan hangat dengan teman-temannya, sebuah stasiun televise mencoba mewawancarainya. Tak tampak kecewa dari raut wajahnya. Sembari tersenyum ia menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan. Sungguh ia terlihat ikut bahagia dengan keberhasilan rekan-rekannya.

            “maaf Gloria, kamu dicari Presiden”, ucap anggota Paspampres ditengah wawancara yang sedang ia jalani. “aku dicari Presiden?” tanya Gloria dengan rasa tak percaya. “iya kamu dicari Presiden dan kamu diharap bisa menghadap sekarang juga”, jawab anggota Paspampres dengan wajah sangat tegas khas Prajurit seolah mencengkeram tangan Gloria untuk ikut bersamanya.

            Dengan penuh tanda tanya Gloria ikut pergi dengan anggota Paspampres itu dan meninggalkan wawancara yang tengah ia jalani. “ada apa ya? Kenapa Presiden mencariku?”, tanya Gloria dalam hati sembari berjalan dengan sangat terburu-buru.

            “oh ini yang selalu masuk berita”, ucap Presiden sembari tertawa menyambut Gloria tiba didekatnya. Seperti mimpi, itulah yang dirasakan oleh Gloria. Ia berbincang dengan Presiden dan pejabat-pejabat lainnya.

            “kamu nanti sore ikut menjadi pasukan penurunan bendera”, ucap Presiden dengan menatap Gloria untuk meyakinkannya. “apa? Aku akhirnya bisa masuk tim? Ini serius?” tanya Gloria dalam hati yang sungguh tak percaya mimpinya selama ini menjadi nyata.

            “siap Pak. Saya siap menjalankan tugas saya”, ucap Gloria dengan rasa yang luar biasa bahagia.

            Sore itu di Istana Negara, seorang gadis bernama Gloria, seorang gadis yang pantang menyerah, menjadi petugas penurunan bendera. Dengan penuh keyakinan ia dan teman-temannya melaksanakan tugas dengan baik, tugas yang akan menjadi kebanggaan mereka, terutama nama baik bangsa.


            Mimpi itu jadi nyata. Gloria, gadis manis yang pantang menyerah akhirnya menggapai apa yang diimpikannya. Tertanam dalam hati, bersabar dan pantang menyerah akan membawanya pada keberhasilan yang nyata.

Wednesday, December 17, 2014

Bapak..

Memasuki umur baru. Umur 25 tahun. Umur pertama gak dapet ucapan selamat ulang tahun dari Bapak. Yang biasanya ditelpon eh gak ada. Iya. Bapak udah pergi. Untuk selamanya…
                
Gue gak pernah nyangka bakal begini. Awalnya tahun lalu. Pas gue lagi ngobrol kerjaan sama temen tiba tiba dapet telpon dari nyokap. “nak tolong hubungi siapapun ini Bapak gak bisa ngapa ngapin lagi kepalanya pusing pas lagi nyetir”. Gue panik. Gue jauh di Jakarta. Dan Bapak n Ibu jauh di Sumatera. Panik malam itu. Siapapun yang gue kenal yang ada disekitaran Lampung dan Palembang gue hubungi. Yah. Bapak akhirnya langsung dibawa kerumah sakit.
                
Waktu itu gue langsung berangkat ke Lampung. Huah. Lemah gue liat keadaaan Bapak. Bapak yang gue tau selalu kuat. Lemah gak berdaya diatas tempat tidur rumah sakit. Gue salamin gue ciumin tangannya. Gue peluk nyokap gue kuatin.
                
Gue emang gak pernah tinggal bareng sama Bapak Ibu. Gue tinggalnya selalu jauh dari mereka karna mereka tinggalnya di pedalaman. Bapak pegawai BUMN dibidang perkebunan.
               
  “Pak gimana keadaannya sekarang? Bapak harus kuat ya”, bisik gue lirih. Bapak diem aja ngangguk. Sampe akhirnya ada perawat masuk bilang ke gue kalo gue sama nyokap dipanggil dokter. Gue pegangin nyokap. Gue genggam kenceng tangannya. Jalan deg degan lewatin lorong rumah sakit.
               
 “selamat sore dok. Ini saya sama Ibu katanya disuruh kesini”, kata gue negur ramah dokternya. “oke silahkan duduk mas sama Ibunya”, kata dokter ramah. Gue tegang. Jantung ini deg degan sambil ngeliat dokter ngebaca kertas hasil rontgen Bapak. “jadi gini, Bapaknya kena serangan stroke. Sudah pendarahan di otak. Resiko terburuknya Bapak bisa meninggal”, dokter jelasin padet jelas n nyesekin. Gue gemeteran denger itu. Gue takut. Gue gak mau kehilangan Bapak. Gue pengen Bapak ngeliat gue wisuda, kerja yang sukses, berkeluarga. Hampir aja netes aer mata gue. Tapi gue harus nguatin nyokap. “Ibu harus kuat. Kita hadepin ini bareng bareng. Berdoa semoga Allah ngasih kekuatan biar Bapak bisa sembuh”, bisik gue sambil meluk Ibu.
               
  Keluar dari ruangan dokter gue sama Ibu jalan lemes. Gue bilang sama nyokap kalo Bapak gak boleh tau. Harus selalu dikuatin. Gak boleh sedih didepan Bapak.
                
Satu bulan dirumah sakit. Dan Bapak akhirnya bisa sembuh. Alhamdulillah… gue ajak Bapak keliling rumah sakit pake kursi roda. Sambil nunggu izin dari dokter untuk pulang.
                
Yeah Bapak akhirnya bisa pulang. Dua minggu gue ngurusin Bapak sampe akhirnya Bapak bisa pulih. Bener bener pulih.
               
  Bapak yang sebelumnya dinas di pedalaman Sumatera Selatan akhirnya dipindah ke Lampung. Biar tinggal di kota n bisa kontrol rutin di rumah sakit tempatnya pas dirawat kemarin. Gue seneng banget. Bapak n Ibu juga seneng.  Setiap ada waktu buat ke Lampung, gue selalu kesana. Tiap gue kesana gue ngeliat Bapak semangat kerja udah bisa nyetir n bawa motor. Ah senangnya…
                
Sampe akhirnya beberapa bulan yang lalu gue ada waktu buat ke Lampung lagi. Setiap hari gue habisin waktu buat ngobrol becanda bareng Bapak Ibu. Sudah seminggu lebih di Lampung gue akhirnya minta izin Bapak buat balik ke Jakarta. “Pak, aku pulang dulu ya ke Jakarta”, ucap gue ke Bapak. Bapak diem ngeliatin gue. Terus dia bilang, “nanti aja nak disini dulu”. Gue gak bisa nolak itu. Entah kenapa. Gue cuma ngangguk terus ngobrol ngobrol lagi sambil nangkep ikan di kolam belakang rumah.
                
Dua hari setelah itu, gue sama nyokap disuruh Bapak pergi ke pasar buat nyari pompa air. Pagi itu Bapak sehat. Selalu keliatan sehat. Siangnya pas gue lagi di jalan tiba tiba Bapak nelpon. Ngobrol ketawa ketawa. Pas mau nutup telpon tiba tiba Bapak teriak, “aduh kepala Bapak pusing banget”. Gue langsung panik. Gue langsung inget sakitnya. Gue panik teriak manggil manggil Bapak ditelpon tapi udah gak ada jawaban lagi. Gue langsung ngebut nyetir pulang ke rumah. Sampe rumah Bapak lagi dipijet sama karyawannya tapi Bapak udah bener bener gak bisa ngapa ngapain geletak dikasur. Gue lemes ngeliatnya. Langsung nyuruh karyawannya masukin Bapak ke mobil biar gue bawa kerumah sakit. Disepanjang jalan gue teriak manggil Bapak biar Bapak tetep komunikasi. Beberapa saat Bapak masih bisa diajak komunikasi. Sampe akhirnya Bapak nyebut takbir & syahadat. Bapak gak sadar lagi. Padahal sedikit lagi sampe rumah sakit. Gue panic. Gue buka kaca teriak teriak nyuruh orang minggir karna macet.
                
Sampe rumah sakit Bapak udah gak sadar. “Pak ayo Pak bangun Pak”, teriak gue. Gue gak kuat bener bener gak kuat. Gue gak pernah tinggal bareng sama Bapak Ibu. Kenapa sekalinya gue tinggal bareng beberapa hari malah Bapak begini. Ah air mata netes gak berhenti.
                
Bapak dipindah keruangan khusus. Semaleman gue selalu disampingnya sama nyokap juga megangin tangannya. Bapak belum sadar juga. Sampe akhirnya pas subuh esok harinya gue disuruh nenek ngebisikin Bapak bilang kalo gue ikhlas. Gue langsung bisikin walaupun berat. “Pak, aku ikhlas apapun yang terbaik buat Bapak. Aku janji jaga Ibu. Aku janji berusaha jadi yang terbaik dikeluarga ini”, bisik gue nahan nangis.
                
Gak sampe sepuluh menit gue bisikin kata kata itu, keadaan Bapak makin lemah. Sampe akhirnya gue inget banget itu jam enam pagi dokter bilang kalo Bapak udah gak ada. “Pakkkkk… Pakkkk…..”, lirih gue panggil Bapak.
                
Innalillahi wa innailaihi rajiun… Bapak pergi. Gue ikhlasin itu. Mungkin itu yang terbaik buat Bapak. Sekarang gue harus bener bener bisa ngurusin semuanya. Ngegantiin Bapak. Sampe akhirnya ini jadi ulang tahun gue tanpa ucapan dari Bapak. Gak bisa bercanda berantem lagi sama Bapak. Tapi ini semua pelajaran buat gue. Gue harus manfaatin waktu hidup sebaik baiknya. Banggain orangtua biarpun Bapak udah jauh disana...

                
Selamat jalan Bapak. Cerita ini buat Bapak. Love you…